Perjalanan Meraih Skor TOEFL ITP Di Atas 550

Perjalanan Meraih Skor TOEFL ITP Di Atas 550

*Postingan ini kemungkinan akan panjang karena mencakup perjalanan saya belajar bahasa Inggris*

Well, sebenarnya saya agak ragu untuk menulis post ini. Pertama, saya merasa tidak cukup mahir dalam bahasa Inggris. Saya masih sering membuat kesalahan dalam grammar, masih sering gugup ketika harus berbicara dengan native speaker, dan masih sering membuka kamus ketika membaca novel berkategori young adult. Kedua, skor TOEFL ITP sebenarnya kurang bisa diandalkan untuk menilai kemampuan berbahasa Inggris seseorang. TOEFL ITP hanya menilai kemampuan pasif kita dalam berbahasa Inggris sehingga memperoleh skor yang tinggi tidak menjamin bahwa seseorang tersebut fasih menggunakan bahasa Inggris pada komunikasi sehari-hari. Meskipun begitu, TOEFL ITP masih digunakan sebagai syarat melamar pekerjaan pada beberapa instansi di Indonesia dan juga sebagai syarat dalam mengajukan beasiswa dalam negeri. Beberapa pemberi beasiswa luar negeri juga masih ada yang menerima skor TOEFL ITP, contohnya LPDP dan Fulbright.

Saya pertama kali mengikuti tes TOEFL ITP pada tanggal 21 Oktober tahun lalu di ILP Cikini. Saya belum pernah secara khusus belajar untuk TOEFL ITP dan keikutsertaan saya pada tes tersebut murni hanya untuk mengetahui level bahasa Inggris saya. Karena alasan itu juga saya memutuskan tidak belajar sebelum tes; saya ingin mengetahui kemampuan saya dalam kondisi “normal”. Hasil yang saya dapatkan diluar ekspektasi saya; saya mendapatkan skor 567/677. Sebenarnya sudah cukup untuk mendaftar beasiswa luar negeri ke LPDP tetapi tidak cukup impresif jika negara tujuan utama beasiswa adalah Inggris.

IMG_3293IMG_3294

Banyak teman seperjuangan saya dalam mendapatkan beasiswa luar negeri bertanya kepada saya bagaimana cara mendapatkan TOEFL ITP di atas 550? Jujur saya tidak merasa pantas untuk menjawab pertanyaan tersebut karena mungkin saja hasil yang saya dapatkan tersebut murni karena keberuntungan. Saya banyak menjawab soal TOEFL kemarin dengan mengandalkan feeling semata. Tetapi ada dua hal penting yang saya dapatkan dari pengalaman pribadi saya dan orang-orang lain yang berjuang dalam meraih skor TOEFL yang diinginkan.

Pertama : jangan belajar bahasa Inggris semata-mata untuk TOEFL, tetapi belajarlah dengan tujuan untuk memperbaiki bahasa Inggris kita. Kebanyakan buku TOEFL hanya berfokus pada tips dan trik menjawab soal TOEFL tetapi kurang berfokus pada “esensi” bahasa Inggris sebagai bahasa komunikasi. Kita bisa saja mendapat nilai tinggi karena sudah terbiasa dengan pola soal yang ditanyakan tetapi belum tentu kita bisa menggunakan bahasa Inggris tersebut untuk berkomunikasi dengan baik. Jadi ubah pola pikir “saya belajar untuk mendapat skor TOEFL di atas xxx” menjadi “saya belajar agar kemampuan bahasa Inggris saya menjadi lebih baik”.

Kedua : jadikan bahasa Inggris sebagai sebuah habit- kebiasaan. Hal ini sebenarnya merupakan alasan mengapa negara seperti Singapura, Malaysia dan Filipina memiliki rata-rata skor TOEFL yang lebih tinggi daripada Indonesia. Sebagian besar orang Indonesia tidak terbiasa menggunakan bahasa Inggris pada kehidupan sehari-hari. Bahkan banyak orang yang mengecap seseorang yang senang menggunakan bahasa Inggris sebagai “sok Inggris” atau “tidak nasionalis”. Sebagai seseorang yang belajar banyak bahasa saya bisa memastikan bahwa belajar bahasa asing tidak mengurangi nasionalisme pada diri saya. Intinya, apapun yang dikatakan orang lain, mulailah gunakan bahasa Inggris sebagai sebuah kebiasaan. You don’t need to live abroad, just create your own English-speaking world!

Berikut beberapa kebiasaan lama yang saya lakukan dalam menciptakan dunia berbahasa Inggris saya sendiri :

1. Kebiasaan 1: Mengubah bahasa pada gadget (PC, handphone, dan peralatan sejenis) yang saya gunakan dalam bahasa Inggris.

Hasil : Menambah kosakata saya.

2. Kebiasaan 2 : Melakukan pencarian informasi pada Google dengan menggunakan bahasa Inggris. Kebiasaan lama yang berpengaruh besar dalam perkembangan bahasa Inggris saya. Awalnya hal ini saya lakukan karena saya sering tidak mendapatkan informasi yang saya butuhkan ketika melakukan pencarian dalam bahasa Indonesia. Lama kelamaan hal ini sudah menjadi kebiasaan kecuali jika informasi yang saya butuhkan berhubungan dengan Indonesia secara spesifik.

Hasil : Membaca artikel berbahasa Inggris membuat saya terbiasa dengan pola kalimat. Hal ini berpengaruh ketika saya menjawab soal structure pada TOEFL ITP. Banyak soal yang saya jawab bukan karena saya benar-benar tahu alasan mengapa struktur kalimat tersebut salah, tetapi murni karena pola kalimat tersebut berbeda dengan apa yang saya baca selama ini. Hal ini sebenarnya terjadi juga pada para native speaker. Kebanyakan native speaker tidak paham jika ditanya grammar, tetapi mereka tahu jika sebuah struktur kalimat salah berdasarkan apa yang terdengar natural bagi mereka.

3. Kebiasaan 3 : Menonton anime, film, drama, reality show, atau variety show Jepang dan Korea dengan menggunakan subtitle bahasa Inggris. Dulunya saya melakukan hal ini karena banyak terjemahan subtitle bahasa Indonesia yang kurang pas dan terkesan kaku. Selain itu anime atau TV series dengan subtitle bahasa Inggris umumnya tersedia lebih awal dibandingkan subtitle bahasa Indonesia.

Hasil : Kebiasan ini juga memberikan kontribusi besar pada bahasa Inggris saya. Banyak orang yang melakukan hal ini juga dalam belajar bahasa Inggris. Ada juga yang rajin menuliskan setiap kata baru yang ditemui pada buku catatan. Saya memilih mengabaikan kata-kata asing ketika menonton dan tidak berupaya mencari artinya di kamus kecuali jika kata tersebut benar-benar penting. Selain tidak mengganggu acara menonton yang seharusnya menyenangkan, hal ini sebenarnya membantu kita untuk memahami arti sebuah kata berdasarkan konteks. Hal yang berguna saat menjawab soal reading pada TOEFL.

4. Kebiasaan 4 : Menonton tutorial (apa saja), konten Youtube, film, dan TV series dalam bahasa Inggris. Saya adalah tipe orang yang lebih mudah belajar dengan audio visual sehingga saya banyak belajar menggunakan video. Banyak tutorial terutama yang berhubungan dengan dunia IT tidak tersedia dalam bahasa Indonesia sehingga mengharuskan saya untuk belajar dengan menggunakan bahasa Inggris. Saya juga banyak menonton video Youtube, TV Series dan film berbahasa Inggris karena isi kontennya yang menarik.

Hasil : Membantu saya dalam listening, menambah kosakata, dan memperbaiki pengucapan saya. Ketika masih sekolah (SD sampai SMA) saya masih menggunakan subtitle berbahasa Indonesia ketika menonton TV Series atau film berbahasa Inggris. Tetapi lama kelamaan setelah bahasa Inggris saya membaik, saya lebih memilih menonton menggunakan subtitle berbahasa Inggris dan bahkan tanpa subtitle sama sekali. Saya pernah membaca bahwa otak kita memfilter bahasa asing yang masuk ke telinga kita sebagai benda asing dan membuat semacam “proteksi” yang membuat kita seolah-olah “tuli”. Hal ini yang membuat kita terkadang susah mengerti apa yang dibicarakan native speaker padahal jika kalimat yang ia utarakan dijadikan bahasa tertulis kita dapat mengerti dengan mudah. Dengan terbiasa mendengar bahasa asing tersebut otak kita juga akan terbiasa dan tidak menganggap bahasa tersebut sebagai benda asing. Hal ini juga yang menyebabkan kita lebih terbiasa dengan aksen Amerika dibandingkan dengan aksen Inggris karena kita lebih terekspos dengan media Amerika.

5. Kebiasaan 5 : Bersosial media dengan bahasa Inggris. Saya memiliki akun Twitter khusus untuk men-tweet dalam bahasa Inggris. Alasannya agar saya lebih mudah mengekspresikan diri saya dalam bahasa Inggris tanpa perlu dicap “sok Inggris” oleh orang lain. Saya juga banyak mengikuti akun-akun berbahasa Inggris. Dari sosial media-lah saya banyak belajar tentang slang atau bahasa gaul dalam bahasa Inggris. Belajar slang seringkali penting karena tidak setiap orang berbicara seperti textbook dalam kehidupan sehari-hari.

Hasil : Menambah kosakata slang dan membuat saya terbiasa mengungkapkan pikiran sehari-hari saya dalam bahasa Inggris. Dari sosial media saya juga bisa memantau perkembangan bahasa Inggris saya dari waktu ke waktu. Terlihat jelas sekali perbedaan ketika saya menggunakan bahasa Inggris pada masa-masa SMA sampai sekarang. Dulu saya hanya menggunakan kosakata sederhana dengan kalimat-kalimat pendek pada tweet saya, tetapi semakin lama tweet saya menjadi semakin panjang dengan kosakata yang lebih beragam.

6. Kebiasaan 6 : Berbicara sendiri dengan bahasa Inggris. Kedengaran seperti orang gila memang. Tetapi saya tidak punya pilihan lain karena saya tidak punya lawan bicara dalam bahasa Inggris. Ketika berbicara dengan diri saya sendiri biasanya saya mencoba mengutarakan pendapat saya dalam bahasa Inggris. Terkadang saya membayangkan sebuah skenario dimana ada orang yang bertanya kepada saya mengenai suatu hal dan saya mencoba menjawabnya dalam bahasa Inggris (dengan berbicara sendiri).

Hasil : Meningkatkan rasa percaya diri dan spontanitas saya dalam berbahasa Inggris.

Keenam kebiasaan tersebut berhasil membawa saya dari level basic (A1) menjadi level intermediate (B1-B2). Terus terang saat ini saya merasa kesulitan untuk mencapai level C1 dan merasa stuck pada level saya saat ini. Ada beberapa usaha yang saya lakukan untuk meningkatkan kemampuan bahasa Inggris saya lebih lanjut.

1. Belajar grammar dengan serius. Saya sebelumnya tidak pernah belajar grammar dengan serius dan hanya mengandalkan pola kalimat yang sering saya baca. Tetapi akhir-akhir ini saya banyak belajar melalui buku Grammar in Use. Saya membeli ketiga seri dari buku tersebut (Essential Grammar in Use, English Grammar in Use, dan Advanced Grammar in Use). Covernya seperti ini :

Gramamr in Use

Series buku ini merupakan favorit saya dan merupakan buku grammar bahasa Inggris terbaik yang pernah saya baca. Pada setiap section akan penjelasan dan soal-soal latihan. Penjelasan yang diberikan tidak berbelit dan terkesan singkat tetapi mudah dipahami karena disertai banyak contoh. Buku ini banyak menjawab kebingungan saya dalam menggunakan beberapa pola kalimat, misalnya saja kapan menggunakan on, in dan at.

2. Mendengarkan BBC Radio atau podcast setiap kali saya bersiap-siap untuk kerja. Program yang paling sering saya dengarkan pada BBC Radio adalah “Today in Parliament” karena bertepatan dengan waktu siap-siap saya. Mengapa BBC Radio? Saya ingin membiasakan diri saya dengan British English karena saya berencana mengikuti tes IELTS tahun depan. Untuk podcast saya sering mendengarkan All Ears English karena tersedia pada iTunes.

3. Membaca berita-berita berbahasa Inggris seperti The Jakarta Post, The Guardian, dan BBC News. Saya paling suka BBC News karena sebagian artikelnya lebih menarik dibandingkan yang lain.

4. Menulis blog pribadi dalam bahasa Inggris. Saya membuat blog khusus yang saya private untuk menceritakan kegiatan sehari-hari saya dalam bahasa Inggris. Blog tersebut sudah saya buat beberapa bulan yang lalu tetapi baru berisi beberapa post saja. Agak susah mengumpulkan niat untuk menulis tetapi cara ini paling efektif untuk menambah kosakata saya. Beberapa waktu yang lalu saya menulis tentang pengalaman saya dalam odontektomi dan saya masih ingat sampai sekarang kata-kata baru yang saya gunakan meskipun saya tidak pernah secara khusus mencoba mengingat kata-kata tersebut.

5. Membaca novel young adult dalam bahasa Inggris. Agak susah karena banyak novel yang menggunakan bahasa “sastra” sehingga sulit saya pahami. Saya banyak mencatat kata-kata baru yang saya dapatkan tapi hal ini mengurangi kenikmatan dalam membaca karena saya terlalu sering membuka kamus. Beberapa kosakata masih saya ingat tetapi banyak juga yang saya lupakan karena kata-kata tersebut jarang saya temukan lagi. Cara ini gagal bagi saya.

6. Menghafal kosakata dengan Memrise. Cara terbaik menghafal kosakata. Memrise juga memiliki kumpulan flashcard khusus kata-kata yang sering keluar dalam TOEFL. Memrise pernah saya review pada post ini.

7. Berlatih dengan teman. Ada dua hal yang saya lakukan : chatting menggunakan bahasa Inggris dan membuat grup sharing kosakata. Untuk grup sharing kosakata, saya dan teman saya bertukar kosakata baru tiap minggunya dan masing-masing harus membuat kalimat dari kosakata yang dibagikan oleh yang lain. Keduanya sebenarnya merupakan cara yang cukup baik, tetapi agak gagal pada saya karena perbedaan level. Teman saya merasa “terintimidasi” karena kata-kata yang saya bagikan sulit (sebenarnya bagi saya juga sulit tetapi sengaja saya bagikan untuk membantu diri saya mengingat) dan bagi saya kosakata yang dibagikan teman saya sudah saya ketahui sehingga kosakata saya tidak bertambah. Ada baiknya jika menggunakan metode ini carilah teman dengan level yang setara.

8. Mencari arti kata yang baru saya ketahui pada kamus berbahasa Inggris. Kamus favorit saya adalah Vocabulary.com. Awalnya saya lebih sering menggunakan Merriam-Webster karena kamus tersebut tersedia offline tetapi beberapa penjelasan pada kamus ini kurang jelas dan terkadang kata-kata yang digunakan dalam penjelasan adalah kata-kata yang tidak saya ketahui artinya. Mencari arti kosakata Inggris dalam kamus berbahasa Inggris membantu kita untuk lebih mengerti makna dari kata tersebut karena tidak semua kata dalam bahasa Inggris memiliki padanan yang setara dalam bahasa Indonesia. Selain itu kita juga dapat belajar mengenai sinonim kata yang akan sangat berguna pada Reading Section TOEFL.

Saya berencana mengikuti tes TOEFL lagi awal tahun depan untuk menilai kemampuan bahasa Inggris saya. Semoga segala usaha yang saya lakukan sekarang untuk memperbaiki bahasa Inggris saya membawa hasil. Target saya adalah level C1. Bagi saya target tersebut masih terlalu sulit dicapai dan terlalu ambisius tetapi saya percaya bahwa kerja keras tidak akan pernah mengkhianati. Semoga bermanfaat.

Iklan

Satu respons untuk “Perjalanan Meraih Skor TOEFL ITP Di Atas 550

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s